Kenapa sekolah harus menerapkan FOSS?


Saya sedang bingung hendak menulis apa karena akhir-akhir ini saya terserang penyakit hati yang biasa disebut anak muda jaman sekarang sebagai "galau" :D
Untuk menghilangkan rasa galau ini, saya membuat tulisan mengapa sekolah harus menerapkan FOSS (Free and open Source Software) dalam beberapa segi. Tulisan ini terinspirasi dari buku-buku pelajaran Teknologi Informasi dan Komputer (TIK) yang dimiliki oleh adik saya

1. Moral
Kita semua tahu tidak ada sekolah yang mengajarkan muridnya untuk berbuat kejahatan. Tetapi apabila sekolah menggunakan software bajakan dalam aktivitas administrasi sekolah atau belajar, secara tidak langsung mengajarkan tindakan kriminal kepada anak didik. Anak didik akan menganggap penggunaan software bajakan merupakan hal yang biasa dan wajar sehingga terus menerus melakukannya. Ingat pepatah "Guru kencing berdiri, murid kencing berlari".
Saya pernah mendengar kalimat ngeles seperti ini dari seorang pendidik "Kami kan menggunakan saja, bukan ikut mencuri atau menjualnya", mendengar kalimat tersebut saya menjadi miris. Kalimat tersebut bukan kebenaran melainkan pembenaran, sekarang kita ambil contoh ada sebuah piring penuh dengan tempe goreng, kita tahu jika tempe tersebut hasil curian namun masih saja memakannya dengan alasan lapar atau "hanya makan saja, tidak ikut mencuri dan menjualnya", lalu bagaimana pendapat anda dengan prilaku tersebut? Salah atau benar?

2. Hemat
Kita asumsikan sekolah anda sudah membeli perangkat komputer menggunakan dana Bantuan Operasional Sekolah alias BOS (saya tahu karena sering dipajang di sekolah-sekolah) dan menggunakan sistem operasi serta software yang asli dan resmi, tentu saja hal itu sangat bagus. Tetapi alangkah lebih baik jika perangkat komputer tersebut menggunakan sistem operasi yang open source seperti distro-distro Linux. Penggunaan distro Linux bisa menghemat dana BOS hingga jutaan rupiah, yang harus anda lakukan hanya download distro Linux, burn di DVD/CD atau gunakan flashdisk, install, dan gunakan.
Selain itu, sekolah juga bisa membeli perangkat komputer bekas yang masih layak jalan ketimbang membeli perangkat komputer baru yang spesifikasi hardwarenya harus disesuaikan untuk menjalankan sistem operasi komersil, karena komputer bekas masih bisa diinstal distro Linux yang lebih ringan.
Dana yang dikeluarkan untuk membeli perangkat lunak dan sistem operasi asli atau resmi bisa digunakan untuk keperluan sekolah lainnya, seperti beasiswa :)

3. Kebebasan pendidikan
Saya membaca buku pelajaran TIK yang dimiliki adik-adik saya yang masih SMP dan SMA, saya cukup terkejut karena isi buku itu hanya menggunakan sistem operasi dan software tertentu yang terkenal dan komersil, alhasil buku tersebut tidak tampak seperti buka pelajaran namun tampak seperti buku tutorial atau buku panduan suatu software/sistem operasi. Jika memang TIK itu adalah suatu mata pelajaran, seharusnya pembahasannya luas dan tidak sempit pada suatu merk tertentu saja. Jika dibiarkan seperti ini, maka depdiknas sebagai instansi terkait sudah menanamkan dogma kepada para murid-murid bahwa tidak ada software lain didunia ini selain software yang ada pada buku tersebut. Karena itu, depdiknas harus menyeimbangkan isi dalam mata pelajaran TIK karena ini sama saja dengan memaksakan penggunaan software komersil kepada anak didik.
Selain itu, ada masalah yang akan timbul jika dibiarkan seperti ini, ketika anak didik hendak mempelajari TIK di rumah dengan mengandalkan buku pelajaran TIK tentu saja akan membeli perangkat komputer atau software/sistem operasi tersebut. Tidak jadi masalah jika anak didik nya merupakan anak orang kaya yang sanggup membeli software komersil yang asli untuk digunakan sebagai bahan belajar dirumah, tetapi bagi anak-anak yang orang tuanya memiliki penghasilan pas-pasan tentu saja (ujung-ujungnya) akan beralih ke software bajakan (balik lagi ke poin 1).

Saya tahu jika Depdiknas sudah mengeluarkan buku pelajaran TIK yang berbasis open source tetapi saya bingung kenapa adik-adik saya masih menggunakan buku pelajaran TIK yang memuat software komersil. Hal ini membuat saya bertanya-tanya apakah depdiknas sengaja....... Ah, lupakan saja :)
Previous
Next Post »
Terima kasih sudah berkomentar, semoga akan dihitung sebagai amal kebaikan ketika hisab di hari akhir nanti. Apasih. Terserah, tapi sempetin komeng ya kalau bisa :)
© 2015 Lalank Pattrya Mahera. Design by Kiki Dee