SEJARAH SHALAT JUMAT

Sudah pada pulang sholat jum'at kan. Sdh tahu belum sejarah pertama kali sholat jum'at didirikan??

Irwan Masduqi

Rasulullah meninggalkan Quba` menuju Madinah pada pagi hari Jum’at. Ketika sampai di Bani Salim bin ‘Auf, tepatnya di lembah Rarona, tibalah waktu shalat Jum’at dan Rasul mendirikan shalat di sana. Shalat Jum’at ini adalah yang pertama kalinya di dalam Islam. Khatbah Rasulullah saw. dalam Jum’at ini juga merupaan khatbah yang pertama kali dalam sejarah. Shalat Jum’at ini dilakukan pada tahun pertama Hijriyah. 

Ini merupakan informasi yang diberikan oleh riwayat-riyawat­ tentang permulaan shalat Jum’at. Dalam riwayat lain disebutkan bahwa As’at bin Zararah dan koleganya mendirikan shalat di kawasan Marbat, sebuah dinding tanpa atap. Para sahabat berkumpul di sana sebelum kehadiran Rasul. 

Dari sumber lain disebutkan, kaum Anshar di Madinah berkumpul lalu mengunjungi As’ad bin Zararah, yang dijuluki Abu Amamah. Mereka berkata, “Mari kita tetapkan sebuah hari untuk berkumpul, dzikr, dan menyembah Allah. Yahudi memilik hari Sabtu dan Nashrani memiliki hari Minggu”. Kemudian mereka menetapkan hari ‘Arubah dan mendirikan shalat dua rakaat. Hari ‘Arubah disebut sebagai “Jum’at” karena mereka berkumpul pada hari itu. Lalu turunlah ayat shalat Jum’at. Inilah shalat Jum’at pertama kalinya sebelum kedatangan Nabi. 

Abdurahman bin Ka’b bin Malik berkata, “Aku adalah penuntun ayahku yang buta. Ketika aku keluar bersama ayahku lalu mendengar adzan Jum’at maka aku meminta maaf kepada Abi Amamah As’ad bin Zararah. Kadang aku mendengar ajakan shalat Jum’at langsung darinya”. Abdurahman bin Ka’b bin Malik berkata, “As’ad adalah orang yang pertama kali mengumpulkan kita di Madinah sebelum kedatangan Rasulullah saw., tepatnya di reruntuhan Bani Bayadhah di Baqi’ (kadang disebut Baqi’ al-Khadhamat). Pada saat itu saya bertanya, berapa jumlah kalian? As’ad menjawab, empat puluh orang”. Ada juga yang meriwayatkan bahwa shalat Jum’at yang pertama kali didirikan adalah shalat di Qura al-Bahrayn, bagian kawasan Abd al-Qays. 
Ibn Said menyebutkan riwayat lain tentang awal mula munculnya shalat Jum’at beserta penuturan sanadnya. Di dalam riwayat itu terdapat keterangan bahwa “Mash’ab bin ‘Umayr mendatangi perkumpulan kabilah-kabilah­ Anshar. Dia mengajak masuk Islam. Lalu satu persatu ada yang masuk Islam hingga tersebarlah Islam di sana. Islam telah tersebar di beberapa kalangan Anshar kecuali kalangan Bani Aus yang terdiri dari Khutamah, Wail, dan Waqif. Mash’ab membacakan dan mengajari mereka al-Quran. Mash’ab kemudian menulis surat untuk baginda Nabi dalam rangka meminta izin untuk mengumpulkan mereka dan Nabi pun menyetujuinya.



Dalam surat balasan, Nabi bersabda ‘Tentukanlah hari setelah orang Yahudi berkumpul pada hari Sabtu. Jika matahari bergeser condong ke arah Barat maka shalatlah dua rakaat dan berkhatbahlah untuk mereka’. Lalu Mash’ab bin ‘Umayr mengumpulkan mereka pada hari Jum’at di rumah Said bin Khutsaymah yang terdiri dari dua belas orang. Mereka menyembelih satu kambing untuk makan bersama. Inilah shalat Jum’at yang pertama kalinya dalam sejarah”. 

Ibn Said juga mencatat cerita lain berupa riwayat Ibn Jurayj dari sumber ‘Atha’. ‘Atha’ berkata, “Orang yang pertama kali mengumpulkan orang-orang di Madinah adalah lelaki dari Bani Abd al-Dar. Orang itu berkata bahwa pengumpulan itu berdasarkan perintah Nabi”. Ibn Jurayj bertanya, “Siapa orang itu?” ‘Atha’ menjawab, “Dia adalah Mash’ab bin ‘Umayr”. 
Dalam cerita lain dijelaskan, “Mash’ab bin ‘Umayr memimpin shalat Jum’at kelompok suku Aus dan suku Khazraj karena diantara dua suku tersebut terlibat permusuhan yang menyebabkan masing-masing pihak tidak ingin diimami oleh pihak lain. Kemudian Mash’ab mengumpulkan orang-orang untuk mendirikan shalat Jum’at yang pertama kali dalam Islam sebelum kedatangan Rasulullah saw. ke Yatsrib sebab beliau tidak mampu mendirikan shalat Jum’at di Makkah (akibat penolakan dari orang Qurays). Rasul memerintahkan shalat Jum’at di Madinah”. Diriwayatkan dari Ibn Abbas, “Nabi telah menulis surat kepada Mash’ab, ‘Tentukanlah hari setelah orang Yahudi berkumpul pada hari Sabat. Kumpulkan perempuan kelompok kalian. Jika matahari condong bergeser ke arah Barat, maka dirikanlah shalat dua rakaat’”. Kemudian Mash’ab mengumpulkan orang-orang untuk mendirikan shalat Jum’at. Hal ini terus berlanjut hingga kedatangan Rasul. 

Dari riwayat-riwayat­ tadi ada yang menunjukkan popularitas nama As’ad bin Zararah sebagai orang yang pertama kali mengumpulkan orang-orang untuk mendirikan shalat Jum’at. Dalam hal ini tidak ada pertentangan dengan riwayat tentang Mash’ab bin ‘Umayr, sebab Mash’ab sebenarnya adalah ajudan As’ad bin Zararah. Jika tanpa As’ad bin Zararah, maka Mash’ab tidak akan mampu mengumpulkan orang-orang dalam rangka mendirikan shalat Jum’at.

Hal ini tidak menafikan bahwa khatib dan imamnya adalah Mash’ab bin ‘Umayr. Dengan demikian tidak mengherankan apabila shalat Jum’at yang pertama kali terkadang dinisbatkan kepada As’ad atau Mash’ab. Namun sebagian ulama mengatakan bahwa shalat Jum’at yang pertama kali didirikan atas inisiatif dari mereka tanpa perintah dari Nabi saw. Pendapat ini adalah salah. 
Alasan argumentatif tersebut merupakan upaya mensingkronkan dua riwayat yang bertentangan; riwayat pertama adalah riwayat penduduk Madinah yang menisbatkan shalat Jum’at pertama kali pada As’ad bin Zararah, seorang tokoh Yatsrib; riwayat kedua, riwayat penduduk Makkah yang menisbatkan shalat Jum’at pertama kali kepada Mash’ab bin ‘Umayr yang tak lain adalah orang Makkah.

Kontradiksi ini bisa terjadi sebab masing-masing golongan fanatik pada kotanya masing-masing. Mereka ingin menjadikan kota masing-masing lebih unggul apabila dikaitkan dengan keutamaan shalat Jum’at. Kelompok Madinah dan Makkah juga sering terlibat dalam persaingan akibat fanatisme dalam persoalan-perso­alan lainnnya yang terkait dengan keutamaan dan posisi mereka dalam Islam.
Previous
Next Post »
Thanks for your comment