Hipotermia bukan?

TIGA hari yang lalu dimana semua puncak kebodohan gue bermula, maksud hati ingin menggapai upil tapi jari teman tak sudi (Eh, bener nggak ini peribahasanya). Gue hari itu bermaksud mengikuti sebuah acara di salah satu gedung namanya gedung Kartini di Malang, di pamflet yang gue baca acaranya dimulai jam 07.30 pagi... *deggg* jantung gue berhenti sejenak, sadar ada sesuatu yang salah, kebetulan gue lagi liburan semester 2 dan gue ingat, gue nggak mungkin bisa bangun se-pagi itu ketika liburan menyerang.

Setelah melalui proses berfikir lama yang cukup menguras ingus di hidung, gue punya ide yang bisa dikatakan cukup briliant untuk tingkat pemikiran orang-orang idiot seperti gue.  Di dalam ide tersebut gue berhasil mengambil sebuah keputusan rumit dimana gue harus tidur lebih cepat untuk dapat bangun yang lebih pagi di keesokan harinya. Tentu keputusan ini gue ambil engga sembarangan, tapi melalui hasil observasi bertahun-tahun gue mengenai pengaruh jam tidur dengan panjang bulu ketiak, eh bangun tidur maksutnya.

Hari itu tidak seperti biasa langit berubah menjadi gelap, petir menyambar-nyambar pantat jojon, tiba-tiba muncul bulek jamu dengan dagangannya yang masih tersisa (nggak nyambung), yap... hari ini gue sudah punya planing diatas... gue tidur lebih cepat nggak seperti biasanya dimana gue di hari-hari biasa biasanya tidur paling cepat jam 01.00 magrib (emang ada) tapi untuk malam ini demi kamu oh acaraku... gue rela tidur lebih cepat yaitu jam 08.00 malam.. ahh.. sungguh hidup orang-orang yang mulia.

Keesokan harinya benar, gue berhasil bangun lebih cepat meski hasilnya kurang maksimal yang penting setidaknya gue punya waktu buat siap-siap pergi ke acara tersebut. Gue bergegas ambil alat-alat mandi, pergi kekamar mandi dan ... whalla... aernya kaya air liur kuda betina atau apalah yang hidup di kutub, ya... intinya dingin banget. Gue jadi nggak tega ketika mau menyiram air sedingin mentari itu ke badan gue yang tanpa lemak dan hanya tulang belulang ini. Eniwei gue berhasil menyelesaikan mandi dan ritual pagi lainnya dengan lancar tanpa halangan yang berarti, kecuali satu, anjriiittt tadi aernya dingin bangeeett.

                                                     .......................................................  



Mandi udah, siap-siap udah semuanya beres cakep lah sudah gue waktu itu untuk standar gembel saraf yang kesasar di stasiun kota baru. Gue berjalan kesebrang jalan buat nyegat "angkot" ke tempat tujuan. Disini sifat hipotermia gue kambuh (Eh, kalau penyakit mudah lupa apa namanya? hipotermia bukan?) gue lupa mesti naik angkot apa buat ke tempat acara tersebut. Asal tau aja di Malang sini angkot punya kode sendiri yang gue tau ada AL, GL, LGD, LG, GML, GA, AG, ABG, ML, BH, CD iya iya yang dua dari belakang itu nggak ada kok. Bodohnya gue bisa lupa harus naik apa, yang gue ingat kalau nggak AL ya GL.

Dalam keadaan dilematis gini biasanya penyakit sotoy gue langsung kambuh, dengan mudahnya gue memilih hanya melalui pertimbangan nama abjad, dan terpilihlah AL. Gue menatap angkot dengan penuh keyakinan dan dengan segera gue comot bangku kosong di dalamnya. Satu lagi penyakit gue yang cukup nggak elit, yaitu gue paling ngga bisa mengafal jalan, jadi misalnya gue diajak temen ke suatu tempat yang agak jauh dan jalannya berbelok-belok tanpa mata gue ditutup terus ditinggal sendirian pasti jadilah gue seperti bayi alien yang kehilangan induknya. Penyakit itu sudah lama gue derita dan sampai sekarang gue belum nemu nama ilmiah untuk penyakit itu--nggak penting juga sih.

Di tengah keyakinan naik angkot "AL" itu gue mulai merasa ada sesuatu (sesuatu) Gue hanya bergumam di dalam hati

    "Kayanya Gedung Kartini di Malang itu nggak jauh-jauh amat deh, kan cuman di Jl Ijen kalau nggak salah sih, tapi nggak apa lah gue ikutin kemauan sopirnya--loh" @!#@$@!$%%

Sudah cukup lama dan gue kali ini benar-benar sadar kalau jalan gue salah jalur dengan tarian gangnam style gue coba lupain masalah tadi. Yah, gue udah pasrah gue yakin banget ini bener, bener bener kesasar maksudnya. Selama perjalanan yang membuat gue sadar itu satu, yaitu tugu kota malang gue udah lewatin itu dan sekarang udah sampai stasiun kota baru, kayanya bakalan beneran jadi gembel saraf deh gue. Tapi gue tetep pasang gaya  "stay cool" ditengah kegugupan gue yang semakin menjadi-jadi gue coba tenang dan SMS ke temen gue "Ojan"

     "Jan, AL itu arahnya dari mana kemana kalau dari Matos (Malang Town Square)?" Gue sms dengan penuh Iba

Nggak beberapa lama gue dapat balesan

     FROM: OJAN
     Setauku dari Landung ke Arjosari lank, kenapa?
     ------------------------------------------------------------

Oh, syukurlah tujuannya masih terminal Arjosari bukan Neraka Jahanam atau Kedubes Alien Saraf walaupun nggak tau Arjosari itu dimana gumam gue.

Ya, namanya terminal Arjosari aja gue nggak pernah nyium baunya seperti apa jadi gue terus tegar ditengah keheningan yang diikuti rasa gugup dan cemas yang mendalam gue cuma bisa diam pasrah. Sekali kali kadang juga gue berfikir bagaimana kalau nanti jadinya tiba tiba ada yang berbuat jahat ke gue semisal ada sekawanan Alien mabuk jengkol yang menyandra angkot dan membawa gue di suatu tempat dan mereka meminta tebusan 2 truk semur jengkol, gue nggak bisa bayangin betapa senang kedua orang tua gue mendengar kabar itu... jelas mereka tidak ingin menebus gue dan anggapan mereka setidaknya bisa mengurangi beban keluarga lah --mungkin.

Namun...hayalan demi hayalan bego lainnya tiba-tiba hilang begitu saja ketika gue ngelihat gapura "Selamat datang di Kab. Malang" terus seiring melajunya angkot gue baca "plank" milik lembaga pemerintahan yang bertuliskan "Kec. Tumpeng" ... lalu gue sadar, bukannya gue pernah kesini dulu waktu acara Baksos yah? Sejauh inikah gue naik angkot hari ini? ah ... gue makin gugup saat terminal "Arjosari" yang tak kunjung muncul juga. Oh, iya gue lupa di dalem angkot itu sepertinya sudah dipenuhi beberapa anak muda yang kalau gue nguping dari pembicaraannya sih, mereka mau nge"bolang" ke Gunung Semeru. Gue hanya bisa pasrah hingga angkot tersebut berhenti dan gue pun turun juga, gue kira ini yang namanya terminal Arjosari tapi ternyata bukan, ini semacam pasar. Gue dengan sotoynya juga langsung naik angkot berwarna putih yang berlawanan arah dari angkot yang sebelumnya berharap bisa kembali dan tidak tersesat.

Dengan sabar gue berdesak-desakan di dalam angkot tersebut, dan ternyata kali ini feeling gue berjalan normal. Gue berhasil kembali ke Jalan besar dan tetap diam ditempat mengikuti arus Angkot putih tersebut. Ternyata sekitar 30 menitan angkot itu berhenti dan gue baca dengan jelas tulisan gede di sebuah bangunan "TERMINAL ARJOSARI". Oh tuhan... sekali lagi engkau menujukkan mukjizat-Mu gue merasa fly .. berputar-putar ditengah savana merayakan kemenangan gue... saking begitu senangnya sampai sampai gue lupa turun dari angkot.

Dengan kepercayaan diri yang penuh sampai tumpeh-tumpeh gue tanya ke salah satu sopir angkot...

     "Permisi Pak, kalau mau ke Alun-alun naik angkot apa ya pak? kata gue dengah wajah manis dan dekil

     "Oh, sampeyan naik GA mas... " Kata sopir angkotnya

Dengan rakusnya gue hampiri angkot yang berkode GA tersebut dan segera bilang ke sopirnya.. "Pak, ini ke alun-alun ya?" "Iya mas,..." jawabnya...
Ternyata gue nggak diculik alien-alien binal juga gumam gue. Gue meluncur dengan seksinya ke alun-alun, sesampai di alun-alun gue lalu naik GL buat kembali pulang.
Sungguh perjalanan yang mengharukan, mungkin kalau dalam cerita-cerita novel picisan si cewek bakalan meluk cowoknya yang sudah luluh air mata.

Sekembalinya gue dari ketersesatan yang begitu mengharukan, melelahkan, atau apalah gue cuma bisa ngrebahin badan gue diatas kasur di kamar, gue lihat kembali jam di handphone gue yak jam 12.15 siang. Gumam gue dalam dengkul, gila loe hari ini demi menghadiri sebuah acara loe mesti tersesat bagai butiran debu selama setengah hari... dan parahnya lagi gue gagal datang ke acara itu hanya karena seonggok besi biru bertuliskan AL karena kebegoan gue sendiri.


                                                                          *****



Previous
Next Post »
Terima kasih sudah berkomentar, semoga akan dihitung sebagai amal kebaikan ketika hisab di hari akhir nanti. Apasih. Terserah, tapi sempetin komeng ya kalau bisa :)
© 2015 Lalank Pattrya Mahera. Design by Kiki Dee